Minggu, 23 September 2012

fraktur basis cranii



Pendahuluan
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (smeltzer S.C & Bare B.G,2001) Fraktur adalah setiap retak atau patah pada tulang yang utuh.
Fraktur tulang tengkorak dapat dikelompokkan menjadi 3 jenis :
1. Complete fracture ( fraktur lengkap ), patah pada seluruh garis tengah tulang,luas dan melintang. Biasanya disertai dengan perpindahan posisi tulang.
2. Closed fracture (fraktur simple ), tidak menyebabkan robeknya kulit, integritas kulit masih utuh.
3. Open fracture ( fraktur terbuka / komplikata/ kompleks), merupakan fraktur dengan luka pada kulit ( integritas kulit rusak dan ujung tulang menonjol sampai menembus kulit) atau membran mukosa sampai ke patahan tulang.
Fraktur mempunyai makna pada pemeriksaan forensik. Bentuk dari fraktur dapat menggambarkan benda penyebabnya (khususnya fraktur tulang tengkorak), arah kekerasan. Fraktur yang terjadi pada tulang yang sedang mengalami penyembuhan berbeda dengan fraktur biasanya. Jangka waktu penyembuhan tulang berbeda-beda setiap orang. Dari penampang makros dapat dibedakan menjadi fraktur yang baru, sedang dalam penyembuhan, sebagian telah sembuh, dan telah sembuh sempurna. Secara radiologis dapat dibedakan berdasarkan akumulasi kalsium pada kalus. Mikroskopis dapat dibedakan daerah yang fraktur dan daerah penyembuhan. Penggabungan dari metode diatas menjadikan akurasi yang cukup tinggi. Daerah fraktur yang sudah sembuh tidaklah dapat menjadi seperti tulang aslinya.



Pembahasan.
A.      Pengertian.
Fraktur basis crania adalah suatu fraktur linear yang terjadi pada dasar tengkorak yang tebal.  Fraktur ini seringkali disertai dengan robekan pada durameter. Fraktur basis crania sering terjadi pada 2 lokasi anatomi tertentu yaitu regio temporal dan region occipital condylar.
Fraktur basis crania dapat dibagi berdasarkan letak anatomis fraktur  fossa anterior dan fraktur  fossa posterior. Fraktur basis crania merupakan yang paling serius terjadi  karena melibatkan tulang-tulang dasar tengkorak dengan komplikasi otorrhea cairan serebrospinal ( cerebrospinal fluid) dan rhinorrhea.

B.      Anatomi.
Bagian cranium yang membungkus otak , menutupi otak, labirin dan telinga tengah.  Tabula interna dan tabula eksterna dihubungkan oleh tulang kanselosa dan celah tulang rawan. Tulang-tulang yang membentuk cranium ( calvaria ) pada remaja dan orang dewasa terhubung oleh sutura dan kartilago dengan kaku. Sutura coronaria memanjang melintasi  sepertiga frontal atap cranium . sutura sagitalis berada pada garis tengah yang memanjang ke belakang dari sutura coronoria dan bercabang di occipital untuk membentuk sutura lambdoidea. Daerah perhubungan os. Frontal, parietal, temporal dan sphenoidal disebut pterion, di bawah pterion terdapat percabangan arteri meningeal media.  Bagian dalam basis crania membentuk lantai cavitas crania, yang dibagi menjadi fossa anterior, fossa media, dan fossa posterior.

C.      Patofisiologi.
Trauma dapat menyebabkan fraktur tulang tengorak yang diklasifikasikan menjadi:
·         Fraktur sederhana :  suatu fraktur linear pada tulang tengkorak.
·         Fraktur depresi apabila fragmen tulang tertekan ke bagian lebih dalam dari tulang tengkorak.
·         Fraktur campuran bila terdapat hubungan langsung dengan lingkungan luar. Ini disebabkan oleh laserasi pada fraktur atau suatu frakturbasis crania yang biasanya melalui sinus-sinus.
Pada dasarnya, suatu fraktur basiler adalah suatu fraktur linear pada basis crania. Biasanya disertai robekan durameter dan terjadi pada daerah – daerah tertentu dari basis crania.
Fraktur basilar adalah fraktur linear meliputi dasar pertengahan pada tulang tengkorak. Fraktur ini biasanya berhubungan dengan dural. Sebagian besar fraktur basilar berlangsung pada 2 lokasi spesifik seperti regio temporal dan regio kondilar oksipital.
Fraktur temporal dapat dibagi dalam 3 subtipe yaitu longitudinal, transversal, dan campuran. Fraktur longitudinal adalah adalah subtipe yang paling umum (70-90%) dan meliputi bagian skuamous pada tulang temporal, inding superior pada canalis auditory eksterna dan tegmen timpani. Fraktur dapat terjadi pada anterior atau posterior ke koklea dan kapsul labirin, berakhir pada fossa cranial media dekat foramen spinosum atau pada sel udara mastoid. Fraktur transversal (5-30%) berasal dari foramen magnum dan keluar mengelilingi koklea dan labirin berakhir pada fossa cranial media. Dinamakan fraktur campuran jika memiliki kedua komponen fraktur longitudinal dan fraktur transversal.
Fraktur condylar oksipital biasanya diakibatkan oleh trauma tumpul dengan kekuatan yang tinggi yang menekan axial, bagian sudut lateral, atau berputar ke jaringan ikat kontinyu. Fraktur ini dapat dibagi dalam tiga tipe dasar berdasarkan morfologi dan mekanisme trauma atau secara alternatif dalam kestabilan dan displace fraktur tergantung dari ada tidaknya kerusakan ligamen. Fraktur tipe I adalah trauma kompresi axial yang menghasilkan fraktur comuniti pada oksipital condilar. Fraktur ini bersifat stabil. Fraktur tipe II disebabkan oleh pukulan langsung dan meluas pada daerah basioccipital, hl ini berhubungan dengan trauma yang menetap karena melindungi ligamen alar dan membran tectorial. Fraktur tipe III secara potensial tidak stabil dan berhubungan dengan suatu luka avulsion sesuai dengan putaran dan sudut lateral.
D.     Gambaran klinis.
Gambaran klinis dari fraktur basis crania yaitu :
a.      Hemotimpanum.
b.      Ekimosis Periorbita.
c.       Ekimosis Retroauricular
d.      Kebocoran Cairan Serebrospinal dari telinga dan hidung
e.      Parese nervus cranialis ( nervus I, II, III, IV, VII, dan VIII ) dapat terjadi.
f.        Hematoma, hemoragi.
E.      Pemeriksaan Penunjang.
a.      Pemeriksaan Labolatorium : sebagai tambahan pada suatu pemeriksaan neurologis lengkap, pemariksaan darah rutin, dan pemberian tetanus toxoid.
b.      Pemeriksaan Radiologi.
·         Foto Rontgen.
·         CT scan.
·         MRI ( magnetic resonance angiography).
F.       Penanganan.
(1). Cegah peningkatan tekanan intrakranial yang mendadak, misal cegah batuk,   mengejan, makanan yang tidak menyebabkan sembelit.
(2). Jaga kebersihan sekitar lubang hidung dan lubang telinga, jika perlu dilakukan             tampon steril (Consul ahli THT) pada bloody otorrhea/otoliquorrhea.
(3). Pada penderita dengan tanda-tanda bloody otorrhea/otoliquorrhea penderita                 tidur    dengan posisi terlentang dan kepala miring keposisi yang sehat                     (Umar Kasan : 2000).
G.     Komplikasi.
Komplikasi yang sering terjadi pada pasien fraktur basis crania adalah paralisis otot-otot fasialis dan rantai tulang – tulang pendengaran apabila farktur basis crania disertai dengan rhinorrhea.

H.     Prognosis.
Walaupun fraktur pada cranium memiliki potensi resiko tinggi untuk cedera nervus cranialis, pembuluh darah dan cedera langsung pada otak, sebagian besar jenis fraktur adalah jenis fraktur linear pada anak – anak dan tidak disertai dengan hematom epidural.



















Konsep Asuhan Keperawatan.
1.      Pengkajian.
a.      Pengkajian subyektif.
Ø  Identitas klien dan keluarga ( penanngungjawab ) : nama, umur, jenis kelamin, agama, suku bangsa, status perkawinan, alamat golongan darah, penghasilan, hubungan klien dengan penanggungjawab.
Ø  Riwayat kesehatan.
Tingkat kesadaran / GCS < 15, convulsi, muntah, takipnea, sakit kepala, wajah simetris atau tidak, lemah, luka di kepala, paralise, akumulasi secret pada saluran pernapasan, adanya liquor dari hidung dan telinga serta kejang.

Ø  A ( airway )                      pembersihan jalan nafas, pengawasan vertebra servikal hingga diyakini tidak ada cedera.
B ( breathing )                          penilaian ventilasi dan gerakan dada, gas darah arteri.
C ( circulation )                     penilaian kemungkinan kehilangan darah, secara rutin tekanan darah pulsasi nadi, pemasangan IV line.
D ( dysfunction of CNS / kelainan fungsi tubuh CNS )
penilaian GCS secara rutin.
E ( exposure )                         identifikasi seluruh cedera.



b.     Pengkajian Objektif.

Aktifitas

Gejala                :     Merasa lemah, lelah, hilang keseimbangan.
Tanda : .Perubahan kesadaran,letargi,hemiparese quadreplegia, ataksia, cara berjalan tak tegap. Masalah dalam keseimbangan cedera (trauma) ortopedi, kehilangan tonus otot, otot spastik.

Sirkulasi
Gejala :          Perubahan tekanan darah atau normal (hipertensi).
                     Perubahan frekwensi jantung (bradikardia, takikardia yang diselingi dengan bradikardia, disritmia).

Integritas Ego
Gejala :            Perubahan tingkah laku atau kepribadian (tenang atau dramatis).
Tanda :  Cemas, mudah tersinggung, delirium, agitasi, bingung, depresi dan impulsif.



Eliminasi
Gejala :    Inkontinentia kandungan kemih/usus atau mengalami gangguan fungsi.

Makanan/Cairan
Gejala :            Mual, muntah, dan mengalami perubahan selera.
Tanda :            :Muntah (mungkin proyektil).
           Gangguan menelan (batuk, air liur keluar disfagia)

Neurosensori
Gejala :    Kehilangan kesadaran sementara, amnesia seputar kejadian. Vertigo, sinkope, tinitus, kehilangan pendengaran, tingling, baal pada ekstremitas. Perubahan dalam penglihatan seperti ketajamannya, diplopia, kehilangan sebagian lapang pandang, fotofobia.
                 Gangguan pengecapan dan juga penciuman.
Tanda ;                Perubahan kesadaran sampai koma.
Perubahan status mental (orientasi, kewaspadaan, perhatian, konsentrasi, pemecahan masalah, pengaruh emosi/tingkah laku dan memori).
                 Perubahan pupil (respon terhadap cahaya, simetri) deviasi pada mata, ketidakmampuan mengikuti.
                 Kehilangan penginderaan seperti pengecapan, penciuman dan pendengaran.
                 Wajah tidak simetri.
                 Genggaman lemah, tidak seimbang.
                 Refleks tendon dalam tidak ada atau lemah.
                 Apraksia, hemiparise, quedreplegia.
                 Postur (dekortikasi, deserebrasi), kejang.
                 Sangat sensitif terhadap sentuhan dan gerakan.
                 Kehilangan sensasi sebagian tubuh.

Nyeri/Kenyamanan
Gejala :  Sakit kepala dengan intensitas dan lokasi yang berbeda, biasanya lama.
Tanda :  Wajah menyeringai, respon menarik pada rangsangan nyeri yang hebat, gelisah, tidak bisa beristirahat, merintih.

Pernapasan
Tanda :  Perubahan pola napas (apnea yang diselingi oleh hiperventilasi). Napas berbunyi, stridor, tersedak.
            Ronki, mengi positif (kemungkinan karena aspirasi).

Keamanan
Gejala :   Trauma baru/trauma karena kecelakaan.
Tanda :                Fraktur/dislokasi.
                 Gangguan penglihatan
                 Kulit laserasi, abrasi, perubahan warna, seperti “raccoon eye” tanda Batle di sekitar telinga (merupakan tanda adanya trauma).. Adanya aliran cairan  (drainase) dari telinga/hidung  (CSS).
                 Gangguan kognitif.
                 Gangguan rentang gerak, tonus otot hilang, kekuatan secara umum mengalami paralysis.
                 Demam, gangguan dalam regulasi suhu tubuh.

Interaksi Sosial
Tanda :     Afasia motorik atau sensorik, bicara tanpa arti, bicara berulang-ulang, disartria, anomia.

Pemenuhan Pembelajaran
Gejala :  penggunaan alkohol/obnat lain.
Pertimbangan Rencana Pemulangan :
     Membutuhkan bantuan pada perawatan diri, ambulasi, transportasi, menyiapkan makan, belanja, perawatan, pengobatan, tugas-tugas rumah tangga, perubahan tata ruang dan penempatan fasilitas lainnya di rumah.

2.      Diagnosa Keperawatan.
1. Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pada pusat napas di otak, kerusakan neorovaskular. .
2. perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan peningkatan TIK.
3. Kecemasan keluarga berhubungan dengan keadaan yang kritis pada pasien.





3.      Intervensi Keperawatan.
Dx. 1.  Tidak efektifnya pola napas berhubungan dengan depresi pada pusat napas di otak, kerusakan neorovaskular. .
Tujuan : mempertahankan pola pernapasan normal/efektif, bebas sianosis dengan GDA dalam batas normal pasien
Intervensi :
a.      Pantau frekwensi, irama, kedalaman pernapasan. Catat ketidak teraturan pernapasan.
      R/ : Perubahan dapat menandakan awitan komplikasi pulmonal (umumnya mengikuti cedera otak) atau menandakan lokasi /luasnya keterlibatan otak. Pernapasan lambat, periode apnea dapat menandakan perlunya ventilasi mekanis.
b.      Angkat kepala tempat tidur sesuai aturannya, posisi miring sesuai indikasi.
      R/ : Untuk memudahkan ekspansi paru/ventilasi paru dan menurunkan kemungkinan lidah jatuh yang menyumbat jalan napas.
c.       Kolaborasi :
-          Pantau atau gambarkan analisa gas darah, tekanan oksimetri
      R/ : Menentukan kecukupan pernapasan. Keseimbangan asam basa dan kebutuhan akan terapi.








Dx. 2. perubahan perfusi jaringan cerebral berhubungan dengan peningkatan TIK.
Tujuan : mempertahankan tingkat kesadaran biasa/perbaikan, kognisi, dan fungsi motorik/sesnsorik.
Kriteria : Tanda vital stabil dan tak ada tanda-tanda peningkatan TIK.
Intervensi :
a.      Tentukan faktor-faktor yang berhubungan dengan keadaan tertentu atau yang menyebabkan koma/penurunan perfusi jaringan otak dan potensial peningkatan TIK.
R/ : menentukkan pilihan intervensi, penurunan tanda gwjala neurologis atau kegagalan dalam pemulihannya setelah serangan awal mungkin menunjukan bahwa pasien itu perlu dipindahkan ke perawatan intensif untuk memantau TIK dan atau pembedahan
b.      Pantau/catat status neurologis secara teratur dan bandingkan dengan nilai standar (misalnya Skala Coms Glascow)
R/ : Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat kesadaran dan potensial peningkatan TIK dan bermanfaat dalam  menentukan lokasi, perluasan dan perkembangan kerusakan SSP.
c.       Pantau TD
R/ : Normalnya, autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang konstan pada saat  ada fluktasi tekanan darah sistemik. Kehilangan autoregulasi dapat mengikuti kerusakakan vaskularisasi serebral lokal atau menyebar. Peningkatan tekanan darah sistemik yang diikuti oleh penurunan tekanan darah diastole merupakan tanda terjadinya peningkatan TIK,jika diikuti oleh penurunan tingkat kesadaran. Hipovolemia/hipertensi dapat juga mengakibatkan kerusakan/iskemia serebral.



Kolaborasi :
d.      Berikan oksigen tambahan sesuai indikasi.
R/ : menurunkan hipoksemia, yang mana dapat meningkatkan vasodilatasi dan volume darah serebral yang meningkatkan TIK.

Dx. 3. Kecemasan keluarga berhubungan dengan keadaan yang sedang dihadapi pasien.
Tujuan : keluarga dapat mengekspresikan perasaan dengan bebas dan tepat serta mampu mengidentifikasi sumber-sumber internal dan eksternal untuk menghadapi situasi.
Intervensi :
a.      Anjurkan keluarga untuk mengemukakan hal-hal yang menjadi perhatiannya.
R/ pengungkapan tentang rasa takut secara terbuka dapat menurunkan ansietas dan meningkatkan koping terhadap realitas.
b.      Kaji kekuatan yang dimiliki keluarga mengenai masalah pendanaan.
R/ mungkin memerlukan bantuan untuk memfokuskan kekuatan agar menjadi efektif.







Daftar Pustaka.

1.            Doenges E. Marilynn (1999), RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN, Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien, Edisi 3, Penerbit Buku Kedokteran (EGC), Jakarta

2.            Brunner & Suddarth (2001), Buku Ajar KEPERAWATAN MEDIKAL BEDAH, Edisi 8 Volume 3, Penerbit Buku Kedokteran (EGC), Jakarta.

3.            GALLO & HUDAK, KEPERAWATAN KRITIS Pendekatan Holistik, Volume II Penerbit Buku Kedokteran (EGC), Jakarta.

4.            Price A. Sylvia & Wilson M. Lorraine (1995), PATOFISIOLOGI Konsep Klinis Proses Penyakit Edisi 4 Buku II Penerbit Buku Kedokteran (EGC), Jakarta.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar